Di balik sayap kupu-kupu, masih ada tangis seekor ulat
dulu aku hanyalah seonggok kecil yang dianggap menjijikan. merangkak pelan di ujung ranting. membawa luka. menyimpan nyeri di balik tubuh mungil yang mereka benci. bahkan sebelum mengenal lebih dalam.
setiap gerakku membuat mereka menghindar. seolah kehadiranku adalah racun mematikan. seolah aku kutukan yang tak layak bernapas di dunia mereka.
aku belajar diam, bukan karena tak punya suara. tapi karena setiap kata yang keluar hanya memantul kembali sebagai cemooh.
aku pergi, menyelinap ke dalam sunyi. memeluk sepi dan luka. merajut benang-benang perih yang perlahan membungkus-ku dalam kepompong bernama pelarian.
hari-hari didalam sana begitu sunyi. gelapnya menusuk, tak ada pelukan, tak ada suara. hanya detak jantung yang sayup, dan pikiran yang terus bertanya :
apakah aku akan tetap dibenci bahkan setelah aku berubah?
tubuhku mulai retak, ingin segera keluar. sayap tumbuh dari luka yang dulu aku benci. luka yang kupeluk erat. bukan karena aku ingin indah, tapi karena aku ingin tetap tumbuh. ingin tetap bertahan meski tak tahu untuk apa
kini aku terbang, pelan-pelan namun pasti. mereka mungkin tak pernah sadar, bahwa yang dulu mereka jauhi kini bisa mengudara. bukan karena ingin dibalas, tapi karena aku tak sanggup lagi membenci.
jika hari ini ada yang memandangku indah. itu bukan kemenangan, melainkan senyum kecil. untuk menyapa mereka yang dulu berlalu. seolah aku tak akan pernah tumbuh.
tatapan yang menjauh, lalu menghilang
ia bertahan hidup di antara langkah-langkah
tak bersuara hanya merayap pelan
dalam tubuh yang dianggap asing
di dunia yang tergesa-gesa menyisihkan-nya
tatapan menjelma duri yang bisu
menyusup lewat kulit yang rapuh
lidah-lidah menari di balik punggung
menabur asin di antara jeda bisik
seolah bisa menular dari napas
yang tak pernah nyaring
ia tak menggigit balik
tak membalas gonggongan dengan taring
hanya menggulung hari dan perih
ke dalam kepompong dari sayatan yang ditelan
di sana, ia menjahit luka menjadi benang
menyatukan tatapan dingin jadi sulaman
renda-renda sarkas yang halus
perlahan menjelma menjadi sepasang sayap.
ketika retakan mulai membuka
dan senyap-nya pecah perlahan
ia keluar bukan untuk terbang tinggi
melainkan berdiri—
di atas tanah yang pernah
ingin menyingkirkan-nya,
dengan sayap yang terbuat
dari semua yang ingin membunuhnya.

Komentar
Posting Komentar